Tradisi Imlek yang (Mungkin) Cuma Ada di Indonesia

Sebagai salah satu negara dengan jumlah masyarakat keturunan Tionghoa terbanyak di dunia, perayaan Tahun Baru Cina atau Tahun Baru Imlek di Indonesia termasuk meriah di berbagai kota.

Meskipun secara umum tradisinya serupa, namun perayaan Imlek di setiap daerah memiliki keunikan tersendiri yang membedakannya dengan yang lainnya. Hal ini tak lain disebabkan oleh adanya pengaruh dari budaya lokal. Bahkan beberapa tradisi tersebut amatlah langka, sampai-sampai orang Tiongkok asli saja tak mengenalinya. Ingin tahu apa saja?

 

  1. Grebeg Sudiro, Solo

Photo Credit: @koh_irull

Setiap tahun komunitas keturunan Cina-Jawa yang beraneka ragam di kota Surakarta – yang lebih dikenal dengan Solo – di Jawa Tengah merayakan Tahun Baru Imlek di tempat yang dikenal dengan perayaan Grebeg Sudiro. Pada tahun 2018, Grebeg Sudiro akan berlangsung dari tanggal 8 Februari – 15 Februari 2018 di sekitar kawasan Pasar Gedhe, Pecinan Solo. Daerah itu akan menyala dengan ratusan lentera, tarian singa dan naga, orang-orang dengan kostum tradisional China dan Jawa yang berwarna-warni diarak, sementara tarian kerajaan kontemporer dari keraton atau istana Sultan Solo dan rumah kerajaan Mangkunegaran akan tampil di sepanjang Jalan Sudiroprajan. Pawai selesai di Klenteng Tien Kok Sie di depan Pasar Gedhe atau Pasar Agung.

 

  1. Pawai Tatung, Singkawang

Photo Credit: @samieadjie

Menyaksikan atraksi yang satu ini sedikit memberikan sensasi ketegangan tersendiri. Ini merupakan parade atraksi kesaktian warga Dayak-Tiongkok dalam merayakan Cap Go Meh, perayaan yang dilakukan pasca hari raya imlek.  Tradisi ini dinilai ekstrim lantaran menyajikan atraksi menusuk-nusuk badan dengan benda tajam. Tatung merupakan sebutan bagi orang yang menusuk-nusukkan benda tajam ke tubuhnya. Dalam bahasa Hakka, Tatung adalah orang yang dirasuki roh dewa atau leluhur. Dengan menggunakan mantra dan mudra tertentu, roh dewa dipanggil kemudian merasuki raga orang yang dituju. Dalam pertunjukkan ini, para tatung tidak lagi sadarkan diri. Mereka telah dirasuki roh halus kemudian mempertontonkan kesaktian mereka berupa kekebalan terhadap benda tajam. Mengenakan pakaian khas Tionghoa, badan hingga pipi para tatung ditusuki benda-benda tajam kemudian mengitari jalan-jalan yang ada di sana.

 

  1. Cian Cui, Riau

Photo Credit: @suhendra_jamal

Kalau di Thailand ada Songkran, maka di Riau ada tradisi serupa yang dinamakan Festival Perang Air (Cian Cui). Tradisi unik ini diselenggarakan untuk memeriahkan Imlek di kota Selatpanjang, Kepulauan Meranti, Provinsi Riau. Perang Air (Cian Cui) dilaksanakan selama 6 hari berturut-turut. Masyarakat berkumpul di pinggiran jalan dan sebagian mengelilingi kota Selatpanjang dengan menggunakan becak untuk saling menyiram air dengan menggunakan pistol air atau melempar kantong plastik atau balon yang berisi air.

 

  1. Mandi di Sumur 7 Gayung, Depok

Photo Credit: @dewikusuma209

Tradisi unik ini berpusat di Wihara Gayatri, Cilangkap, Depok yang terkenal karena memiliki tujuh buah sumur yang diyakini memiliki khasiat dan dipercaya bisa mendatangkan rezeki, jodoh, serta memnyembuhkan penyakit. Mandi dari sumur ini pun bukan tanpa aturan. Pengunjung yang datang harus mandi dengan air dari ketujuh sumur tersebut secara berurutan. Pengunjung mandi dengan menggunakan pakaian seperti biasa kemudian menyiramkan air ke tubuh dengan bantuan gayung. Pada saat menyiramkan air ke tubuh, posisi tubuh harus seperti bersimpuh. Begitu selanjutnya ke sumur-sumur berikutnya.

 

  1. Festival Cap Go Meh, Bogor

Photo Credit: @fahrullah_k2

Cap Go Meh  melambangkan hari ke-15 dan hari terakhir dari masa perayaan Tahun Baru Imlek bagi komunitas Tionghoa di seluruh dunia, termasuk Indonesia. Di Bogor, festival tahunan yang selalu ditunggu-tunggu oleh seluruh masyarakat ini dipusatkan di kawasan Jalan Suryakancana. Festival tersebut akan terdiri dari upacara keagamaan, prosesi arak-arakan dari wihara, dan atraksi barongsai. Tapi bukan hanya kesenian Tionghoa saja yang bisa ditemukan di festival ini, melainkan juga kesenian asli Indonesia lain, seperti sisingaan, wayang golek, hingga musik calung. Bahkan Untuk Festival Cap Go Meh Bogor 2018 pada 2 Maret mendatang, diharapkan beberapa utusan dari propinsi lain akan hadir, seperti Ambon, Madura, serta Sumatera Barat.

 

  1. Jamuan Tok Panjang, Semarang

Photo Credit: @jpradarsemarang

Setiap hari menjelang dan saat Imlek, kawasan Pecinan Semarang akan dimeriahkan dengan Pasar Imlek Semawis. Dan biasanya, pasar malam tersebut akan diawali dengan tradisi Jamuan Tok Panjang. Tok Panjang merupakan salah satu tradisi masyarakat Tionghoa, yakni makan bersama pada malam perayaan Imlek. Yu sheng menjadi salah satu sajian yang dalam jamuan tok panjang tahun ini. Bentuk yu sheng menyerupai salad, tapi isinya terdiri atas gabungan sayuran dan ikan. Biasanya, yu sheng berisi ikan, wortel, lobak, jeruk, bubuk lada, biji wijen, dan kulit pangsit.

 

  1. Kue Pang Chiam-Thong Che, Bangka

Photo Credit: @puspitadw29

Seperti dilansir dari Kompas.com, salah satu kuliner tradisional yang mulai langka untuk perayaan Imlek masih bisa ditemukan di sejumlah rumah warga di Desa Benteng, Bangka Tengah, Kepulauan Bangka Belitung. Kue Pang Chiam-Thong Che atau kue kembang gula diproduksi dalam jumlah terbatas, dengan proses pembuatan yang cukup panjang. Di pasaran, kue ini mulai tersisihkan dengan munculnya beragam kuliner zaman kekinian. Makanan khas ini, diperkirakan sudah masuk ke Tanah Air sejak abad ke-18 seiring kedatangan para pekerja tambang dari daratan China ke Pulau Bangka. Pang chiam ini sendiri berbentuk semacam kulit lumpia dikasi isian gula dan kacang yang dihaluskan.

 

  1. Tradisi Makan Ikan Bandeng

Photo Credit: @halona_giftshop

Ikan bandeng sudah sejak dulu jadi hidangan wajib saat perayaan Imlek berlangsung, khususnya di beberapa daerah di Indonesia. Biasanya ukuran ikan bandeng jumbo yang diincar oleh pembeli. Seperti biasa, berbagai hidangan yang ada saat imlek bermakna filosofi dan pengharapan-pengharapan tertentu di tahun yang akan datang. Ikan bandeng adalah simbol kehidupan dari air, terutama ikan bandeng yang berasal dari laut. Warna sisiknya yang berkilau putih seperti perak mewakili keberuntungan yang diharapkan akan datang seiring datangnya tahun baru.

 

  1. Kuliner Lontong Cap Go Meh

Photo Credit: @maharajah8

Lontong Cap Go Meh adalah masakan adaptasi Peranakan Tionghoa Indonesia terhadap masakan Indonesia, tepatnya masakan Jawa. Hidangan ini terdiri dari lontong yang disajikan dengan opor ayam, sayur lodeh, sambal goreng hati, acar, telur pindang, abon sapi, bubuk koya, sambal, dan kerupuk. Dipercaya bahwa hidangan ini melambangkan asimilasi atau semangat pembauran antara kaum pendatang Tionghoa dengan penduduk pribumi di Jawa. Dipercaya pula bahwa lontong cap go meh mengandung perlambang keberuntungan, misalnya lontong yang padat dianggap berlawanan dengan bubur yang encer. Bentuk lontong yang panjang juga dianggap melambangkan panjang umur. Telur melambangkan keberuntungan, sementara kuah santan yang dibubuhi kunyit berwarna kuning keemasan, melambangkan emas dan keberuntungan.

 

Leave a Reply