5 Tanaman Langka yang Ada di Indonesia

Indonesia merupakan salah satu negara yang dikenal dengan kekayaan alamnya. Hal ini tidak terlepas dari betapa suburnya tanah Indonesia. Dari berbagai tanaman yang tumbuh di tanah Indonesia, beberapa di antaranya kini tergolong langka dan bahkan terancam punah. Apa saja tanaman langka tersebut?

Kantong Semar

#kantongsemar

A post shared by Ferry Suranto (@ferry.suranto) on

Kantong semar disebut sebagai tumbuhan karnivora karena mampu memangsa serangga yang mendekatinya, seperti lalat atau lebah. Namun, kantong semar hanya bisa memangsa serangga apabila usianya sudah cukup dewasa. Saat ada serangga mendekat, kantongnya akan membuka dan melahap serangga tersebut. Setelah itu, kantong semar segera kembali menutup diri agar sistem pencernaannya lancar dan tidak diganggu oleh musuh yang hendak merebut makanannya.

Anggrek Tebu

Satu rumpun anggrek tebu dewasa bisa memiliki berat lebih dari satu ton dengan panjang mulai dari tiga meter. Karena ukurannya tersebut, bunga ini kerap disebut sebagai anggrek raksasa. Agak berbeda dari jenis anggrek lain yang umumnya memiliki satu warna pada setiap kelopaknya, anggrek tebu memiliki warna kuning dengan kombinasi bintik-bintik berwarna cokelat, merah, dan merah kehitaman. Jika kamu memotong batangnya, anggrek tebu masih dapat bertahan hingga dua bulan setelahnya. Sayangnya, keberadaan anggrek tebu sudah mulai langka sehingga harus dilindungi.

Rafflesia Arnoldii

TOWN OF CURUP, THE BEST PLACE TO OBSERVE THE EXCEPTIONAL FLORA, RAFFLESIA ARNOLDII The Town of Curup is located approximately 85 km away from Bengkulu city. The town sits at an altitude of between 100-1,000 meters above sea level in the highlands of the Bukit Barisan Mountain Range. These mountains stretch all the way from north to south, to form like the backbone of the island of Sumatra. Curup is home to the Rejang ethnic group who live spread across a number districts. Curup (and the Rejang Lebong Regency in general) is a major producer of rice, coffee, rubber, and vegetables. The rice and vegetables of this town are sold to other major cities across Sumatra such as Palembang, Padang, Jambi, Bandar Lampung, and Pekanbaru. The best place to observe these exceptional flora is in the rainforests along the Bengkulu-Curup route. Curup itself is the capital and main hub of the Rejang Lebong Regency in the Bengkulu Province that also acts as gateway to some of the regency’s natural wonders such as the Bukit Kaba, Suban Hot Spring, and Lake Mas Harun Bastari. Explore Indonesia and its exotic nature and add a new experience in Indonesia. COME AND VISIT the BBTF 2017. REGISTER NOW at www.bbtf.or.id #bbtf2017 #travel #travelfair #expo #explore #tourist #tourism #hotels #tourandtravel #bali🌴 #bengkulu #flora #rafflesiaarnoldii #instatravelling #nature

A post shared by BBTF (@bbtfindonesia) on

Meski sama-sama mengeluarkan bau busuk, Refflesia Arnoldii tidak sama dengan bunga bangkai, lho. Berbeda dari bunga bangkai yang tumbuhnya meninggi, Rafflesia Arnoldii tumbuh melebar ke samping. Saat bunganya mekar, diameternya bisa mencapai satu meter dengan berat hingga sepuluh kilogram. Umumnya, diperlukan waktu sekitar sembilan bulan bagi bunga ini untuk tumbuh hingga mekar. Sedihnya, Rafflesia Arnoldii hanya akan mekar selama kurang lebih tujuh hari sebelum kemudian layu dan mati.

Daun Payung

Ditemukan oleh seorang profesor bernama Teijsman, daun payung memiliki nama ilmiah Johannestijsmania Altifrons. Daun yang juga sering disebut sebagai daun sang dan salo ini memiliki daun yang sangat besar, lebar, dan kuat. Bahkan saking kuatnya, pada zaman dahulu, daun payung digunakan sebagai atau dan dinding-dinding rumah. Karena fungsinya tersebut itulah daun ini disebut sebagai daun payung. Jika penasaran ingin melihatnya secara langsung, kamu bisa pergi ke Sumatera karena di sanalah daun payung banyak tumbuh.

Edelweiss Jawa

Pernah mendaki gunung? Jika iya, kemungkinan besar kamu pasti pernah bertemu dengan bunga Edelweiss Jawa. Sayangnya, tanaman yang juga disebut sebagai bunga senduro ini mulai kritis keberadaannya. Bunga Edelweiss Jawa masih bisa segar meskipun dipetik dari tangkainya. Hal inilah yang membuat banyak pendaki mengambil bunga ini sebagai kenang-kenangan. Alhasil, lama kelamaan pun jumlahnya merosot drastis. Padahal biasanya bunga Edelweiss Jawa-lah yang pertama kali akan tumbuh setelah terjadi erupsi gunung berapi.

Kelima tanaman di atas mungkin sudah cukup susah ditemukan di Indonesia, tapi bukan berarti kamu tak bisa melakukan apa-apa untuk mencegah kepunahannya. Kamu bisa bantu menjaganya dengan melindungi kelestarian alam dan tidak merusak tanaman-tanaman tersebut untuk kebutuhan pribadi. Mari sayangi alam!

Leave a Reply