Cuma Ada di Indonesia: 5 Tradisi Lebaran Unik dari Berbagai Daerah

Minal aidin walfaidzin, maafkan lahir dan batin. 

Selamat  para pemimpin, rakyatnya makmur terjamin

 

Sepenggal lirik lagu Hari Lebaran gubahan Ismail Marzuki tersebut mungkin sudah berulang-ulang kamu dengar diputar di mana-mana, seolah menjadi sebuah tradisi yang menandakan Hari Kemenangan telah tiba. Tapi tahukah kamu kalau di berbagai daerah di Indonesia kita bisa menemukan berbagai tradisi unik dan tiada duanya setiap menyambut Idul Fitri yang pastinya selalu dinantikan? Penasaran?

 

  1. Grebeg Syawal, Yogyakarta

Photo Credit: @david_priyono

Dalam tradisi yang dilangsungkan setiap tanggal 1 Syawal ini, warga Jogja akan turun ke jalan mengarak berbagai macam hasil bumi yang disusun menjadi gunungan. Arak-arakan dimulai dari Keraton Yogyakarta menuju Masjid Gede Kauman, lalu alun-alun utara. Setelah didoakan, hasil bumi tadi akan diperebutkan oleh warga yang telah menunggu sejak selesai Sholat Ied. Menurut kepercayaan, siapapun yang berhasil merebut bagian dari gunungan hasil bumi tersebut kelak akan mendapat keberuntungan dan keberkahan.

 

  1. Ngejot, Bali

Photo Credit: Dream.co.id

Meskipun mayoritas penduduk Pulau Bali menganut agama Hindu, namun toleransi antar umat beragama di sini amatlah kuat. Salah satunya bisa kamu saksikan lewat tradisi Ngejot. Ngejot adalah tradisi membagikan aneka makanan, kue dan buah-buahan kepada sahabat dan warga lintas agama yang tinggal di pemukiman sekitarnya sebagai bentuk terima kasih. JIka umat Hindu akan melaksanakan Ngejot pada saat hari raya Galungan, Kuningan dan Nyepi, bagi umat Islam, Ngejot diadakan setiap Idul Fitri. Sungguh tradisi yang patut dilestarikan!

 

  1. Perang Topat, Lombok

Photo Credit: KOMPAS.com/Karnia Septia

Seperti halnya Ngejot, tujuan dari tradisi ini adalah untuk memperkuat hubungan antarumat beragama yang ada di Lombok. Perang Topat atau Perang Ketupat biasa dilakukan pada hari keenam Lebaran dan dilakukan oleh Suku Sasak yang merupakan suku asli di Lombok. Acara diawali dengan mengarak berbagai hasil bumi, lalu dilanjutkan dengan saling melempar ketupat. Mereka meyakini dengan melempar ketupat, maka semua doa dan permintaan mereka bakalan terkabul. Seru ya?

 

  1. Tumbilotohe, Gorontalo

Photo Credit: @hafizhabibie_

Tradisi yang sudah berlangsung sejak abad ke-15 ini digelar sebagai penanda berakhirnya bulan suci Ramadan di Gorontala. Perayaan dilakukan pada 3 malam terakhir menjelang hari raya Idul Fitri dengan memasang lampu-lampu minyak di sepanjang jalan dari maghrib hingga menjelang subuh. Dulu, tujuan Tumbilotohe adalah untuk menerangi jalan agar memudahkan warga yang lewat saat membagikan zakat. Tapi sekarang tradisi ini menjadi sebuah perayaan cahaya yang amat indah, dan biasanya juga dimeriahkan dengan tabuhan bedug dan Meriam bambu.

 

  1. Binarundak, Boolang Mongondow (Sulawesi Utara)

Photo Credit: Berita Kawanua

Diselenggarakan 3 hari setelah Hari Raya Idul Fitri, Binarundak adalah momen di mana masyarakat di daerah Motoboi Besar bersama-sama memasak Nasi Jaha, yang terbuat dari beras ketan bercampur racikan rempah dan bumbu seperti bawang merah, jahe, serai, santan dan lain-lain. Campuran beras ketan dan bumbu tersebut kemudian dimasukkan ke dalam batang bambu yang dilapisi daun pisang, lalu dibakar menggunakan sabut kelapa.  Selain jadi rangkaian perayaan Idul Fitri, tradisi ini juga merupakan ajang bermaaf-maafan sebelum para pemudik kembali ke tanah perantauan.

 

Leave a Reply